Jakarta, 25 Mei 2026 – Ketegangan politik di Turki kembali memanas setelah aparat kepolisian antihuru-hara menggerebek markas partai oposisi utama di Ankara dengan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa pendukung yang bertahan di dalam gedung. Operasi tersebut dilakukan menyusul putusan pengadilan yang memicu perebutan kepemimpinan internal partai oposisi utama Republik Rakyat Turki atau CHP. Ratusan pendukung oposisi dilaporkan mencoba menghalangi aparat dengan membuat barikade di area kantor partai sebelum polisi akhirnya masuk secara paksa ke dalam gedung. Situasi ricuh terjadi ketika aparat menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang menolak meninggalkan lokasi. Insiden tersebut memicu kecaman dari kelompok oposisi dan memperbesar kekhawatiran terhadap kondisi demokrasi di Turki.
Menurut laporan media lokal, penggerebekan dilakukan setelah pengadilan memutuskan pembatalan kepemimpinan Ketua CHP Özgür Özel dan mengembalikan posisi pimpinan partai kepada mantan ketua Kemal Kılıçdaroğlu. Putusan itu memicu penolakan keras dari kubu Özel yang menilai keputusan pengadilan sarat kepentingan politik dan bentuk campur tangan terhadap partai oposisi. Pendukung oposisi kemudian bertahan di kantor pusat partai selama beberapa hari untuk menolak pergantian kepemimpinan tersebut. Aparat keamanan akhirnya turun tangan setelah situasi dianggap semakin tidak terkendali dan berpotensi memicu kerusuhan lebih luas. Rekaman video yang beredar menunjukkan kepulan gas air mata di dalam area kantor partai dan suasana panik para pendukung oposisi.
Pemerintah Turki menyatakan tindakan aparat dilakukan untuk menjaga ketertiban dan menegakkan keputusan hukum yang telah ditetapkan pengadilan. Namun kelompok oposisi menuduh pemerintah menggunakan aparat keamanan untuk menekan lawan politik menjelang dinamika politik nasional berikutnya. Sejumlah anggota parlemen oposisi mengecam keras penggunaan kekuatan terhadap pendukung partai dan menyebut tindakan itu sebagai ancaman terhadap kebebasan politik di Turki. Selain itu, organisasi hak asasi manusia juga menyoroti penggunaan gas air mata di area tertutup yang dinilai berisiko membahayakan keselamatan warga sipil. Ketegangan politik ini menambah panjang daftar konflik antara pemerintah dan kelompok oposisi dalam beberapa tahun terakhir.
Pengamat politik internasional menilai insiden di markas CHP menunjukkan semakin tajamnya polarisasi politik di Turki. Persaingan internal partai oposisi yang melibatkan campur tangan pengadilan dinilai dapat memperburuk stabilitas politik nasional apabila tidak diselesaikan melalui dialog politik yang sehat. Selain itu, penggunaan aparat keamanan dalam konflik politik domestik juga berpotensi memperkuat kritik internasional terhadap kondisi demokrasi dan kebebasan sipil di negara tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, Turki memang kerap mendapat sorotan terkait penanganan demonstrasi, kebebasan pers, dan hubungan pemerintah dengan kelompok oposisi. Situasi terbaru ini diperkirakan akan semakin memengaruhi dinamika politik Turki menjelang agenda politik nasional mendatang.
Hingga kini, aparat keamanan masih berjaga di sekitar markas partai oposisi untuk mengantisipasi kemungkinan aksi lanjutan dari para pendukung oposisi. Sejumlah tokoh politik menyerukan ketenangan dan meminta seluruh pihak menahan diri agar situasi tidak berkembang menjadi bentrokan yang lebih besar. Di sisi lain, kubu oposisi menyatakan akan terus melawan keputusan yang mereka anggap tidak sah melalui jalur politik dan hukum. Ketegangan tersebut menjadi perhatian luas masyarakat internasional karena Turki memiliki posisi strategis dalam geopolitik kawasan dan hubungan dengan negara-negara Barat. Dengan kondisi politik yang masih memanas, perkembangan situasi di Ankara diperkirakan akan terus menjadi sorotan dalam beberapa waktu ke depan.







