Jakarta, 28 September 2026 –
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan pandangannya mengenai sikap yang perlu dimiliki seorang pemimpin. Menurut Luhut, pemimpin harus bersedia mendengarkan masukan dari orang lain dan tidak menganggap pandangannya sendiri selalu paling benar. Pernyataan itu disampaikan dalam pembukaan Galeri Jejak Langkah Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Senin (28/9/2026). Ia menilai keterbukaan menjadi penting karena setiap orang memiliki keterbatasan dalam melihat suatu persoalan.
Luhut mengatakan prinsip tersebut menjadi salah satu pelajaran yang diperolehnya selama menjalani perjalanan panjang dalam berbagai bidang. Sebelum memimpin DEN, ia pernah menjalani karier sebagai prajurit TNI, diplomat, hingga mengisi sejumlah jabatan menteri dalam pemerintahan. Pengalaman tersebut menurutnya menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak dapat melihat seluruh persoalan dari setiap sudut pandang seorang diri. Karena itu, masukan dari tim dibutuhkan sebelum mengambil keputusan penting.
Menurut Luhut, masalah dapat muncul apabila seorang pemimpin tidak lagi bersedia mendengarkan pandangan orang lain. Ia mengingatkan manusia selalu memiliki kekurangan dan ada sisi tertentu dari sebuah persoalan yang mungkin luput dari perhatian. Kondisi tersebut membuat keberadaan orang-orang dengan pengalaman dan perspektif berbeda menjadi penting dalam sebuah organisasi. Bagi Luhut, proses mendengarkan merupakan bagian dari upaya mendapatkan gambaran yang lebih lengkap sebelum keputusan dibuat.
Luhut juga mengungkapkan dirinya banyak mendapatkan masukan dari anggota tim selama bekerja di pemerintahan. Tim yang mendampinginya disebut banyak diisi generasi muda dengan beragam latar belakang keahlian. Ia menilai berbagai hasil yang diperoleh selama menjalankan tugas bukan semata-mata pencapaian pribadi, melainkan hasil kerja bersama. Pandangan tersebut menjadi alasan Luhut menekankan pentingnya kolaborasi antara pemimpin dan orang-orang yang bekerja bersamanya.
Dalam kesempatan yang sama, Luhut turut berbicara mengenai arah pembangunan Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyatakan optimisme terhadap target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintah, dengan syarat berbagai pihak bekerja secara kompak, saling mendengarkan, dan memberikan contoh melalui pelaksanaan kebijakan. Pernyataan mengenai target tersebut merupakan pandangan Luhut dan bukan kepastian mengenai tingkat pertumbuhan yang akan tercapai.
Luhut juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu kebijakan yang menurut penilaiannya dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru di tingkat masyarakat. Ia berpendapat perputaran anggaran program tersebut berpotensi membangun ekosistem ekonomi di tingkat bawah. Dampak aktual program terhadap pertumbuhan ekonomi tetap bergantung pada pelaksanaan, efektivitas belanja, dan berbagai faktor ekonomi lainnya. Pernyataan itu disampaikan Luhut ketika menjelaskan optimisme terhadap prospek perekonomian nasional.
Pesan mengenai kepemimpinan tersebut menjadi bagian dari refleksi Luhut atas perjalanan karier dan pengabdiannya. Ia menempatkan kemampuan mendengarkan, bekerja bersama tim, dan menyadari keterbatasan pribadi sebagai unsur penting dalam pengambilan keputusan. Menurut pandangannya, jabatan tidak membuat seseorang memiliki seluruh jawaban atas persoalan yang dihadapi. Karena itu, keterbukaan terhadap masukan menjadi prinsip yang ia tekankan kepada siapa pun yang menjalankan peran kepemimpinan.





