Jakarta, 2 Oktober 2026 – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap bahwa menangis memiliki manfaat bagi kesehatan mental dan tidak seharusnya selalu dianggap sebagai tanda kelemahan. Menurutnya, menangis merupakan salah satu respons alami tubuh ketika seseorang menghadapi tekanan emosional. Air mata dapat menjadi bagian dari proses mengekspresikan perasaan yang selama ini dipendam. Karena itu, masyarakat diingatkan agar tidak merasa malu ketika perlu menangis dalam menghadapi situasi tertentu.
Budi menjelaskan kesehatan jiwa perlu mendapatkan perhatian yang sama seriusnya dengan kesehatan fisik. Tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, masalah ekonomi hingga berbagai perubahan dalam kehidupan dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Apabila seluruh emosi tersebut terus ditekan tanpa memiliki ruang untuk diekspresikan, beban psikologis dapat terasa semakin berat. Menangis menjadi salah satu bentuk pelepasan emosi yang secara alami dilakukan manusia.
Menurut Budi, setelah menangis seseorang dalam kondisi tertentu dapat merasakan perasaan yang lebih lega. Respons tersebut berkaitan dengan kesempatan tubuh dan pikiran untuk mengekspresikan kesedihan, kecewa, marah maupun tekanan yang sebelumnya tertahan. Meski demikian, menangis bukan satu-satunya cara untuk menjaga kesehatan mental. Setiap orang dapat memiliki mekanisme berbeda dalam mengelola emosi dan menghadapi tekanan kehidupan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat lebih terbuka membicarakan kesehatan jiwa. Selama ini, persoalan mental masih kerap dipandang sebagai sesuatu yang harus disembunyikan karena kekhawatiran terhadap stigma lingkungan. Padahal, mengenali perubahan kondisi emosional sejak dini dapat membantu seseorang menentukan langkah yang dibutuhkan. Dukungan keluarga dan lingkungan juga berperan penting dalam menciptakan ruang yang aman bagi seseorang untuk menyampaikan perasaannya.
Menangis juga tidak selalu berkaitan dengan kesedihan. Seseorang dapat mengeluarkan air mata ketika merasakan kebahagiaan, haru, frustrasi maupun emosi yang sangat kuat. Respons tersebut merupakan bagian dari mekanisme manusia dalam menghadapi pengalaman emosional. Karena itu, kebiasaan menahan tangis hanya karena khawatir dianggap lemah tidak selalu menjadi pilihan yang tepat, terutama apabila membuat seseorang semakin sulit mengekspresikan apa yang sedang dirasakan.
Namun, kondisi emosional tetap perlu diperhatikan apabila tangisan terjadi terus-menerus, terasa sulit dikendalikan atau disertai perubahan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam keadaan tersebut, mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional dapat menjadi langkah yang diperlukan. Penanganan kesehatan mental tidak cukup hanya mengandalkan satu cara seperti menangis, melainkan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Kesadaran untuk mencari pertolongan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jiwa.
Budi mendorong masyarakat untuk tidak lagi melihat ekspresi emosi sebagai sesuatu yang memalukan. Menjaga kesehatan jiwa dapat dimulai dengan mengenali perasaan, memberikan ruang untuk mengekspresikannya serta mencari bantuan ketika beban terasa semakin sulit ditangani sendiri. Menangis dapat menjadi salah satu bentuk ekspresi alami dalam proses tersebut, tetapi bukan pengganti penanganan profesional apabila seseorang mengalami masalah kesehatan mental yang menetap. Dengan pemahaman yang lebih terbuka, stigma terhadap persoalan kesehatan jiwa diharapkan dapat terus berkurang.





