Jakarta, 28 Agustus 2026 – Korea Selatan menyatakan ketertarikannya untuk ikut terlibat dalam pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang tengah dikebut pemerintah Indonesia. Keterlibatan tersebut berpotensi dilakukan melalui perusahaan-perusahaan energi surya asal Korea Selatan dengan membawa dukungan modal, teknologi, serta keahlian dalam pengembangan fasilitas energi terbarukan. Tawaran tersebut muncul setelah Indonesia secara resmi memulai program PLTS 100 GWp yang menjadi salah satu proyek besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.
Ketertarikan Korea Selatan disampaikan Political Section Chief Kedutaan Besar Korea Selatan Uhm Taeho dalam sebuah kegiatan di Jakarta. Ia menyebut perusahaan dari negaranya memiliki keinginan untuk bermitra dengan Indonesia dalam pengembangan energi surya, meskipun pembahasan mengenai bentuk keterlibatan secara khusus masih berada pada tahap awal. Korea Selatan melihat proyek tersebut sebagai peluang kerja sama yang cukup besar karena kebutuhan Indonesia terhadap kapasitas pembangkit energi surya akan meningkat seiring pelaksanaan program 100 GWp. Kerja sama nantinya dapat dibahas lebih konkret apabila pemerintah Indonesia membuka ruang bagi perusahaan Korea untuk masuk dalam pengembangan proyek tersebut.
Selain menawarkan teknologi dan modal, Korea Selatan juga menyatakan komitmen untuk melibatkan tenaga kerja Indonesia dalam fasilitas yang nantinya dibangun. Keterlibatan pekerja lokal dinilai dapat memberikan manfaat lebih luas karena kerja sama tidak hanya berorientasi pada pembangunan pembangkit, tetapi juga pada pengembangan kemampuan sumber daya manusia. Tenaga kerja Indonesia berpotensi mendapatkan pelatihan mengenai teknologi pembangkit surya, pengoperasian fasilitas, hingga pemeliharaan sistem energi terbarukan. Proses tersebut sekaligus dapat menjadi sarana transfer pengetahuan dan teknologi dari perusahaan Korea kepada industri dan tenaga kerja di Indonesia.
Program PLTS 100 GWp sendiri telah resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2026 di Gilimanuk, Bali. Program tersebut diawali dengan 14 proyek PLTS yang tersebar di enam provinsi dengan total kapasitas mencapai 5,3 GWp. Proyek awal tersebut menjadi bagian dari target yang jauh lebih besar untuk membangun kapasitas pembangkit surya hingga 100 GWp di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintah menempatkan program ini sebagai salah satu langkah untuk memperluas penggunaan energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil.
Besarnya program tersebut membuat kebutuhan investasi dan teknologi juga sangat besar. Pemerintah memperkirakan pembangunan tahap awal 14 proyek dengan kapasitas 5,3 GWp membutuhkan investasi sekitar Rp135 triliun. Sementara untuk keseluruhan program PLTS 100 GWp, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai sekitar Rp1.140 triliun. Nilai tersebut menunjukkan bahwa proyek ini membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk investor, produsen teknologi, pengembang pembangkit, lembaga pembiayaan, serta industri pendukung di dalam negeri. Besarnya kebutuhan modal juga membuka peluang bagi kerja sama internasional untuk mempercepat pembangunan fasilitas energi surya.
Keterlibatan perusahaan Korea Selatan dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat rantai pasok teknologi dalam proyek tersebut. Pengembangan PLTS tidak hanya membutuhkan panel surya, tetapi juga berbagai komponen pendukung seperti sistem inverter, perangkat pengendalian, jaringan transmisi, sistem penyimpanan energi, serta teknologi pemantauan. Pengalaman dan kemampuan perusahaan asing dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pengembangan ekosistem tersebut di Indonesia. Namun, kerja sama diharapkan tidak berhenti pada pengadaan peralatan, melainkan turut mendorong peningkatan kemampuan industri nasional agar Indonesia secara bertahap memiliki kapasitas yang lebih besar dalam memproduksi dan mengembangkan teknologi energi surya.
Transfer teknologi menjadi salah satu aspek yang cukup penting dalam rencana kerja sama tersebut. Indonesia membutuhkan kemampuan teknologi yang tidak hanya dapat digunakan ketika pembangkit dibangun, tetapi juga dapat dikelola dan dikembangkan dalam jangka panjang. Jika proses transfer pengetahuan berjalan dengan baik, tenaga kerja lokal dapat memperoleh kemampuan untuk mengoperasikan, merawat, serta mengembangkan fasilitas yang dibangun. Penguatan kemampuan tersebut dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap tenaga ahli asing sekaligus menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di sektor energi terbarukan.
Program PLTS 100 GWp juga memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menambah kapasitas listrik nasional. Pemerintah mengarahkan pengembangan energi surya sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan ketahanan energi. Dengan memanfaatkan potensi energi matahari yang tersedia di berbagai wilayah Indonesia, pembangkit listrik dapat dikembangkan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Program tersebut juga diharapkan dapat membantu memperluas akses energi bersih ke berbagai daerah, termasuk wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan dalam memperoleh pasokan listrik yang stabil.
Pengembangan PLTS dalam skala besar juga membutuhkan kesiapan jaringan listrik nasional. Produksi listrik dari tenaga surya memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembangkit konvensional karena bergantung pada kondisi matahari. Oleh sebab itu, sistem kelistrikan membutuhkan perencanaan yang matang agar energi yang dihasilkan dapat disalurkan dan dimanfaatkan secara optimal. Teknologi penyimpanan energi dapat menjadi salah satu bagian penting dalam mengatasi perubahan produksi listrik akibat kondisi cuaca dan waktu. Integrasi antara pembangkit surya, jaringan transmisi, sistem penyimpanan, dan pengelolaan permintaan listrik akan menentukan keberhasilan program dalam jangka panjang.
Bagi Korea Selatan, keterlibatan dalam proyek energi surya Indonesia juga dapat menjadi peluang untuk memperluas kerja sama ekonomi kedua negara. Industri teknologi energi Korea memiliki kesempatan untuk masuk ke pasar Indonesia yang memiliki kebutuhan energi sangat besar. Sementara bagi Indonesia, masuknya perusahaan asing dapat memberikan tambahan modal, teknologi, dan pengalaman dalam mengembangkan proyek energi bersih berskala besar. Jika kerja sama tersebut disusun dengan memperhatikan kepentingan nasional, keterlibatan investor asing dapat berjalan beriringan dengan penguatan industri dalam negeri dan penciptaan lapangan kerja.
Dengan adanya tawaran dari Korea Selatan, proyek PLTS 100 GWp Indonesia semakin menunjukkan daya tariknya sebagai salah satu proyek energi bersih berskala besar. Pemerintah masih perlu memastikan bentuk kerja sama, mekanisme investasi, keterlibatan industri lokal, serta skema transfer teknologi dapat disusun secara jelas sebelum masuk ke tahap pelaksanaan yang lebih luas. Keberhasilan program nantinya tidak hanya diukur dari jumlah kapasitas pembangkit yang berhasil dibangun, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonomi, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia yang dapat diperoleh Indonesia. Jika seluruh unsur tersebut dapat berjalan bersama, proyek PLTS 100 GWp berpotensi menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat ketahanan energi dan mempercepat transformasi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.






