Jakarta, 2 September 2026 – Sosok siswa yang diduga terlibat dalam peristiwa ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, menjadi perhatian setelah sejumlah teman sekolah memberikan kesaksian mengenai kesehariannya. Siswa tersebut disebut merupakan pelajar kelas XII dan dikenal sebagai pribadi yang pendiam serta tidak banyak berinteraksi dengan siswa lain. Sejumlah pelajar juga menyebut bahwa siswa tersebut diduga pernah mengalami perundungan di lingkungan sekolah. Namun, pada tahap awal penyelidikan, kepolisian menegaskan informasi mengenai perundungan dan kaitannya dengan motif kejadian masih harus diperiksa secara menyeluruh.
Peristiwa ledakan terjadi pada Jumat, 7 November 2025, ketika aktivitas salat Jumat berlangsung di lingkungan sekolah. Ledakan menyebabkan puluhan orang mengalami luka sehingga harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit. Situasi sekolah yang sebelumnya berlangsung normal berubah menjadi kepanikan ketika suara ledakan terdengar. Petugas kepolisian kemudian melakukan pengamanan lokasi, olah tempat kejadian perkara, serta mengumpulkan berbagai barang yang dapat membantu mengungkap penyebab kejadian.
Salah seorang siswa kelas XI ketika itu mengatakan terduga merupakan bagian dari lingkungan SMA Negeri 72 Jakarta. Informasi tersebut diperolehnya setelah melihat foto yang beredar di kalangan siswa setelah kejadian. Ia menyebut siswa yang dicurigai merupakan pelajar kelas XII. Siswa tersebut juga dikatakan menjadi salah satu korban yang harus dievakuasi ke rumah sakit setelah ledakan. Kondisinya membuat penyidik pada awal penanganan perkara belum dapat langsung memperoleh keterangan secara lengkap.
Kesaksian lain menggambarkan terduga sebagai siswa yang cenderung pendiam dan sering menyendiri. Seorang teman yang telah mengenalnya sejak masa kanak-kanak mengatakan interaksi terduga dengan lingkungan sekolah memang relatif terbatas. Ada pula siswa yang mengaku mendengar bahwa terduga sudah sering terlihat menyendiri sejak duduk di kelas XI. Gambaran tersebut kemudian berkembang bersamaan dengan informasi bahwa siswa itu diduga pernah menjadi sasaran perundungan.
Meski demikian, informasi mengenai perundungan pada saat itu sebagian besar berasal dari keterangan siswa dan kabar yang beredar di lingkungan sekolah. Tidak semua siswa yang memberikan kesaksian mengaku pernah melihat langsung tindakan perundungan terhadap terduga. Karena itu, dugaan tersebut tidak serta-merta dapat digunakan untuk menyimpulkan penyebab ledakan. Polisi perlu memeriksa saksi, lingkungan pergaulan, aktivitas terduga, serta berbagai bukti lain sebelum menentukan motif secara resmi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto ketika penanganan awal perkara menjelaskan bahwa penyidik masih mendalami kemungkinan terduga merupakan korban perundungan. Pemeriksaan menghadapi kendala karena sejumlah saksi yang dibutuhkan keterangannya juga menjadi korban ledakan dan memerlukan pemulihan medis. Kondisi tersebut membuat proses pengumpulan keterangan tidak dapat dilakukan sekaligus. Kepolisian memilih memprioritaskan perawatan korban sembari menjalankan penyelidikan berdasarkan bukti lain yang tersedia.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga sempat menyampaikan bahwa informasi awal menunjukkan terduga berasal dari lingkungan sekolah tersebut. Pernyataan itu memperkuat fokus penyelidikan terhadap pihak internal sekolah, tetapi tidak otomatis mengonfirmasi berbagai spekulasi yang beredar mengenai motif. Aparat tetap melakukan pendalaman untuk menyusun rangkaian kejadian berdasarkan fakta. Pemerintah ketika itu juga meminta masyarakat tidak terburu-buru menghubungkan peristiwa tersebut dengan kesimpulan tertentu sebelum penyelidikan selesai.
Peristiwa tersebut sekaligus memunculkan perhatian lebih luas terhadap persoalan perundungan di lingkungan pendidikan. Sekolah idealnya menjadi ruang aman bagi siswa untuk belajar dan membangun hubungan sosial tanpa mendapatkan intimidasi maupun kekerasan. Dugaan adanya perundungan dalam sebuah perkara serius perlu ditelusuri dengan hati-hati karena setiap kasus memiliki latar belakang berbeda. Pencegahan juga membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, teman sebaya, serta mekanisme pelaporan yang dapat dipercaya siswa.
Kesaksian teman-teman sekolah pada akhirnya memberikan gambaran awal mengenai sosok terduga sebagai pelajar yang pendiam, jarang bersosialisasi, dan disebut pernah mengalami perundungan. Namun, kesaksian tersebut harus dibedakan dari kesimpulan penyidik karena informasi yang muncul segera setelah kejadian masih dapat berubah setelah pemeriksaan lebih lengkap. Penanganan perkara ledakan SMA Negeri 72 Jakarta menjadi pengingat pentingnya menempatkan fakta hasil penyelidikan di atas spekulasi, sekaligus memperkuat upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman bagi seluruh siswa.




